Breaking

Selamat datang di blog Rahmi Intan. Blog ini mengenai seputar karya-karya Rahmi Intan

Sunday, February 4, 2018

February 04, 2018

Bunga Setengah Layu (Puisi di koran Padang Ekpres)


Bunga Setengah Layu
Oleh : Rahmi Intan

Dulu..
Teramat elok setangkup bunga mekar itu
Dulu..
Teramat dimanja-manja dipuja-puja
Menangkap lembut belaian angin beterbangan hilir-mudik

            Kini..
            Si kumbang berayun-ayun dikelopaknya
Bergidik dibuatnya melayang melanglang buana
Sekilas saja
Si kumbang mengepak sayap berayun pada kelopak lain
Ia menjadi setengah layu
Oh, bunga malang


Bukittinggi, September 2015  

 Terbit di Padang Ekspres, 20 September 2015 
February 04, 2018

Yang Menanti di Penghujung Jalan (Puisi di Padang Ekspres)


Yang Menanti di Penghujung Jalan
Oleh : Rahmi Intan

Terlahir di rahim malaikat tak bersayap
Tepat sembilan bulan menatap dunia
Tukikan terdengar ke telinga
Meraba sekeliling mancari malaikatmu

            Pagimu menjemput siang
            Meraba jalan berduri injakan kaki
            Kulit terkoyak pada kerikil tajam
            Tetap lurus tatapan

Siangmu menjemput petang
Kulitmu keriput dimakan usia meninggi
Sudahkah persiapanmu matang?
Sosok berjubah hitam menanti di penghujung jalan


Bukitinggi, oktober 2015

Terbit di Padang Ekspres, 18 November 2015 
February 04, 2018

Sutera (Cerpen di Koran Padang Ekspres)


“Sutera”
Oleh : Rahmi Intan

            Awan masih berkelayut mendung. Belum tampak setitik cahaya. Membuat mata enggan terbuka lebar untuk melihat jam di atas meja yang sedari tadi masih berdering-dering. Ia masih mengusap kedua pelupuk mata. Jam menunjukkan pukul tujuh. Selimut dan bantal  berhamburan dibiarkan begitu saja. Cepat-cepat ia menuju kamar mandi.
            Hari ini memasuki tahun ajaran baru dengan kelas baru, begitu juga teman-teman. Selepas meraih ijazah SMPN begitu memuaskan. Sudah dua tahun ia berada di sini. Hidup seadanya, tak begitu menjanjikan. Hanya sekolah yang bisa diandalkan. Baginya pendidikan lebih penting dari segala hal, begitu yang ia ingat dari ucapan Mama.
            “Kau harus bisa lebih menghidupi dirimu sendiri nanti. Adakala suatu hari kau kehilangan orang yang kau butuhkan. Bisa sesaat, bisa selamanya.”
            Bus masih belum lewat. Telah sepuluh menit ia berdiri di depan rumah. Tinggal lima menit tersisa waktu untuk melangkahkan kaki hingga sampai di sekolah. Yang dinanti datang juga, sayangnya bus hanya lewat dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan lambaian tangan yang sedari tadi mengarah ke muka bus. Embusan napas kecewa terpadu di wajah mungilnya. Masih tertunduk diam menatap jalanan bertembok yang sedikit demi sedikit terkikis usang.
            “Mau berangkat bareng, Kak?” ketus seorang laki-laki dari atas motor vega.
            Motor melaju kencang, tak dihiraukan lagi resah yang tadi menjalar di benak. Pikirannya tertuju pada sekolah baru, kelas baru, begitu juga teman-teman baru. Akan lebih asik lagi ia berteman di sini. Kenangan tiga tahun di SMPN tak akan terlupakan, meski ditelan zaman; meski tengah berada di sekolah ini sebentar lagi.
            Depan gerbang memisahkan keduanya. Laki-laki dengan seragam celana dongker dan baju putih menggas motor kecepatan tinggi agar tak terlambat. Ia palingkan badan tepat di hadapan gerbang.
            “Sudah jam berapa ini? Kelas berapa?” tanya satpam berkumis.
            “Maaf, saya anak baru. Maklum, tidak tahu jalan ke sini, Pak. Tanya sana-sini dulu.”
            “Baik, saya maafkan. Silakan masuk!” sambil mendorong pintu gerbang ke dalam.
            Masih beruntung ia tak diomeli berlama-lama. Kalau pun iya, jadwal pelajaran pertama bisa-bisa ketinggalan jauh. Apalagi satpam terlihat gersang, tegas, dan kurang bersabat juga. Langkahnya terus berayun di atas lantai keramik sedikit licin menuju kelas baru. Napas ngos-ngosan, sulit dihela ke dalam. Tibalah di kelas baru, lumayan besar, bisa menampung 40 siswa. Sayangnya tak satu pun yang ia kenal di sana, mungkin bisa satu alumni saja dari SMPN sama yang ia kenal agar terjalin komunikasi supaya ia tak geregetan.
            “Kenapa terlambat? Silakan masuk!” ujar seorang Guru dari dalam.
            “Maaf, Buk. Tadi kesasar di jalan.”
            Segerombolan di sudut belakang tertawa cengengesan. Menertawakan kehadirannya berdiri tegak di depan kelas dengan alasan yang menurut mereka sebuah lelucon. Menganggap ia katrok, kurang pergaulan, hingga sekolah berlabel elit tak diketahui sampai nyasar entah ke mana. Namun ia tertunduk lagi seperti di halte pagi tadi. Ingin ia meneteskan air mata, tapi ditahan dalam-dalam. Kain sutera di tangan masih dipegang erat-erat. Teringat wajah Mama di hati dan pikirannya. Di mana Mama selalu memberi nasehat agar tidak cengeng di hadapan orang banyak. “Sekali pun kau meraung tangis ke angkasa, orang tak akan peduli. Bahkan dunia pun juga tak peduli.”
            Wajah Mama masih terus membayang di benak. Kata demi kata yang dilontarkan Mama dulu membendung duka lara di hati. Belum air mata jatuh, cepat-cepat ia usap agar tak ada yang melihat kalau ia sedang bersedih. Berusaha ia tutupi wajah dengan jilbab putih bermerek SMAN xxxx itu. Sengaja ia lebih menunduk lagi dan tak berani memandangi sekeliling, apalagi memandangi segerombolan perempuan di sudut kelas.
            Ia juga teringat Mama yang selalu menyediakan sarapan untuknya di pagi hari. Membelai rambut hitam ikal, mengelus kepala, dan memeluk erat tubuhnya. Begitu cinta dan kasih sayang Mama padanya, tak pernah lekang oleh zaman, tak bisa diganti dengan apa pun juga.
            “Nak, apa yang akan kau lakukan jika Mama telah tiada?” tanya ibunya pagi itu.
            “Belajar arti kepergian, dan menerima arti keikhlasan. Bukan begitu, Ma? Ngomong-ngomong, kenapa Mama bertanya hal itu?”
            “Hanya ingin kau lebih mengerti lagi hidup sesungguhnya. Kadang seseorang harus dicambuk dulu, baru tersadar.”
            “Maksud Mama?” tanyanya masih linglung.
            Diam menyelimuti, Mama tak menjawab. Semakin waktu berjalan, semakin hening tercipta. Ucapan salam dan cium tangan sebelum pergi sekolah menjadi perpisahannya pagi itu selepas hening tadi. Tinggal gelas dan piring kosong di meja makan. Ada yang tertinggal di atas meja makan, sebuah kain sutera yang dijahitnya bersama Mama kemarin sore. Buru-buru Mama mengejar ke depan rumah, tapi bus yang ia tumpangi sudah sangat jauh.
            Motor buntut di sebelah rumah dikendarai mamanya, berharap dapat mengejar bus di depan. Langkah Mama berlari-lari menuju kelasnya. Terlihat seorang Guru tengah menjelaskan pelajaran di depan kelas. Sudah lima menit berlalu pelajaran berlangsung. Ia tak tampak di dalam kelas. Rasa kawatir Mama menjadi-jadi, Mama menemukan ia tersungkur di sudut toilet dengan napas tersengal-sengal. Obat hirup diletakkan di mulut dan hidungnya. Barulah ia pulih kembali. Belum lama, ia mimisan. Kain sutera menjadi andalan hingga berhenti pendarahan.
            Mama memeluk ia erat-erat, tak ingin kehilangan. Sudah cukup ia menderita penyakit asma dan mimisan. Jangan ditambah lagi! Pewarisan gen dari Mama turun kepadanya. Lambaian tangan Mama lebih memulihkannya untuk semangat belajar dan melawan penyakit diderita. Tak ada kata menyerah untuk berdiri lebih tegap lagi.
            Gemuruh di langit sore mengantarkan kepergian Mama. Tak percaya bahwasannya Mama pergi secepat itu. Kain sutera pemberian terakhir Mama, di mana ia menjahit pertama kalinya agar nanti bisa mengikuti jejak langkah Mama sebagai seorang tukang jahit. Kain sutera dibasahi air matanya, lalu dipeluk dalam-dalam. Penyakit asma yang diderita ternyata membuat Mama pergi selama-selamanya, namun bukan itu, lebih kepada sebuah garis takdir.
            “Kini aku siap menerima kepergian. Selamat jalan, Mama!” lambaian tangannya sebelum menjejaki langkah ke peraduan.
****
            Tak terasa air mata telah banyak terjatuh ke lantai dari tadi. Ia tak mampu menahan lagi genangan air di mata yang tadinya berbinar memasuki kelas. Mengenang pasal kejadian dua tahun lalu. Ia tak boleh menangis, ia harus tegakkan kepala. Ini bukan zaman cengeng, ini zaman kuat. Yang lalu adalah kenangan, yang ke depan adalah harapan. Hanya karena cemoohan mereka ia jatuh, tidak! Justru karena cemoohan mereka ia harus bangkit.
            Ia langkahkan kaki menuju tempat duduk paling belakang, tepat di sebelah ketua rombongan itu. Guru dan semua yang di dalam terheran dengan tingkahnya, tapi ia tersenyum manis membalas. Ia mengulurkan tangan ke teman sekeliling, semua menjabat uluran tangan dengan ramah. Seolah-olah tak ada terjadi masalah sebelumnya.
            “Mama benar. Orang jahat dan keras hanya bisa dibalas dengan lembut dan baik,” ucapnya dalam hati.
            Kain sutera menjadi bahan perhatian mereka semua selepas pelajaran usai. Bukan kain yang ia banggakan, tapi hasil jahitan, dan susah payahnya ia menjahit tanpa Mama. Banyak yang bertanya-tanya kenapa kain suteranya sangat bagus. Padahal jarang di tempat itu ditemukan sutera sebagus miliknya. Yang lain sangat ingin memiliki, sayang ia tak bisa menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu di mana Mama mendapat kain sebagus itu.
            Jawabannya terpecahkan ketika ia tahu bahwa kain sutera itu salah satu mahar kawin Ayah waktu menikahi Mama dulu. Maka sangatlah berharga bagi Mama, dan akan lebih berharga untuknya. Setahun ia belajar menjahit di ruang tengah rumahnya untuk menyelesaikan kerudung dari kain sutera itu.       
              Kini kerudung dari kain sutera itu telah jadi. Kali ini ia lebih mengerti lagi maksud mamanya dulu. Setelah kehilangan ia harus mengerti hidup sesungguhnya. Bahwasannya hidup untuk beramal, membagikan ilmu, berbakti pada orangtua, tentunya untuk mendapat ridho dari-Nya. Juga untuk memberitahu bahwa kita berasal dari tanah, dan kembali ke dalam tanah. Tak selalu orangtua keras akan kehendaknya adalah buruk, namun lebih kepada kebaikan kita sebagai anak. Perkataan Ibu jauh lebih benar dari pikiran kita. Sebab, seorang Ibu tidak pernah salah diciptakan untuk mendidik seoarang anak.
            Ia terus pandangi mesin jahit. Karena mesin jahit dan perjuangan Mama dulu menjadikan ia hidup lebih baik  seperti sekarang. Kasih sayang dan cinta Mama ada di dalam hatinya, maka dari itu Mama tak pernah hilang baginya. Pintu terdengar diketuk seseorang dari luar. Ia membuka perlahan.
            “Apa benar ini nak Sera, anak dari Ibuk Sulaswati? Saya mau menjahit baju di sini. Kebetulan tidak ada penjahit di sekitar sini.”
            “Iya, Buk. Benar, saya sendiri Sera. Berapa kain, Buk?”
            “Sekitar 100 kain batik sutera dijahit untuk jadi seragam batik anak-anak di sekolah saya.”
            “Oh, begitu!” ujarnya sambil garuk-garuk kepala tak karuan. Rezeki selalu datang dari segala pintu. Ini mah entah rezeki atau apa.

Koran Padang Ekspres, 18 November 2015.
Cerpen Sutera pernah meraih cerpen terbaik 2 lomba dari penerbit Phoenix.

Saturday, February 3, 2018

February 03, 2018

Terowongan (Cerpen di Koran Pasaman News)


“TEROWONGAN”
Oleh : Rahmi Intan
          Di sinilah tempat kami tinggal. Tempat yang entah berapa kilometer dari kerumunan manusia yang sibuk dengan kerlap-kerlip teknologi moderen. Kami mengais demi sebuah harapan. Kelak, akan kami kejar seberkas cahaya itu.
          Tengoklah! Layakkah kami terus berada di sini? Kalian akan menemukan kami di sudut-sudut ladang sambil mencangkul tanah dan menanam bibit kembali setelah panen. Tidur beralaskan tikar usang. Dinding lapuk dimakan usia. Atap rumbia yang diterobos titik air dari langit seakan terus turun tanpa henti. Inilah rumah kami. Layaknya bukan rumah, tapi gubuk yang sudah mulai miring.
          Dari kejauhan, tampaklah dua manusia sedang memperbincangkan suatu hal.
          “Hei, Kau! Ini tanahku. Tanah warisan nenekku. Kenapa kau menanam ubimu tak jelas di sini?” gumam seseorang berbadan tegap dan kekar.
          “Apa kau bilang? Sejak dulu sampai sekarang, tanah ini milik nenekku. Kaulupa! Kita sudah sepakat batasan tanahkau di sebelah sana,” jawab seseorang berbadan kurus.
          “Tidak bisa! Ini masih tanah milikku.”
          “Apa perlu kuperlihatkan surat-surat tentang tanah ini kepadamu?”
          “Ah.. Sudahlah!” ucap laki-laki berbadan tegap dan kekar berlalu dari hadapan laki-laki kurus tersebut.
          Kami tidak terlalu mengetahui apa maksud mereka. Tanah? Sebuah tanah yang hanya berukuran 1 meter jadi pertikaian. Pada hakikatnya, kami di sini hanya menumpang hidup. Mencari sesuap nasi untuk cacing-cacing di perut.
          Pertikaian ini bukanlah yang pertama kalinya. Tapi sudah ke sekian kali mereka memperdebatkan 1 meter tanah di sebelah gubuk kami. Tanah yang sedikit itu memang sangat subur sekali. Apa pun jenis buah-buahan atau sayur-sayuran yang ditanam, pasti akan cepat mendapat hasil.
          Seiring waktu berjalan. Tempat ini sedikit demi sedikit mulai berubah. Lebih parah dari sebelumnya. Nyaris kami ditendang dari gubuk ini.
          “Hei, Kau! Apa kau yang tinggal di gubuk reot ini?” tanya laki-laki berbadan tegap dan kekar dengan garangnya.
          “I.. Iya, Pak,” jawabku dengan gagu.
          “Hari ini kalian tinggalkan tempat ini. Tempat ini akan saya jadikan ladang ubi baru.”
          “Jangan, Pak! Tempat tinggal saya hanya di sini. Mencari makan pun saya hanya bisa di sini bersama istri dan anak-anak.”
          “Saya tidak peduli! Kalian bisa tinggal di mana mau kalian. Di bawah pohon pun kalian bisa tinggal.”
          “Tolonglah kami, Pak!” sambilku memohon mengharap ada satu kata yang layak untuk kudengar.
          “Ah.. Ini barang kalian. Silakan pergi!” gumamnya sambil berlalu dari hadapan kami.
          Berjalan entah ke mana. Nampaknya belum ada titik yang menemukan kami untuk bernaung. Masih terkatung-katung di jalan yang penuh batu tajam. Kulit telapak kaki terkoyak pun tak dihiraukan lagi.
          Aku berdiri tegap menatap satu tempat. Di mana di tempat itu tidak ada satu orang pun. Bahkan yang ada di situ hanya harimau dan binatang lainnya. Dengan keberanian yang kuat, kuhampiri harimau yang menatap sedari tadi.
          “Aku di sini hanya untuk beristirahat. Bukan untuk mengganggumu.” Ujarku perlahan-lahan mendekati. Tampaknya harimau tersebut mengerti dengan yang kumaksud.     
          Selang waktu berganti, jadilah aku beserta istri dan anak-anak tinggal di bawah pohon rindang yang tingginya mencapai 6 meter. Di sini kami bisa mencari makan dengan membuka ladang untuk tempat mengais. Masih teringat olehku kata-kata laki-laki berbadan tegap dan kekar dulu.
          “Saya tidak peduli! Kalian bisa tinggal di mana mau kalian. Di bawah pohon pun kalian bisa tinggal.”
          Ya, kata lelaki tersebut benar. Di bawah pohonlah tempat layak untuk kami tinggal seperti sekarang.
          Sedikit demi sedikit ladang ini pun mulai siap panen. Membuahkan banyak hasil yang membuat kami tercengang dengan sendirinya.
          “Mau kita apakan ubi sebanyak ini, Pak?” tanya istriku.
          “Kita jual, Buk. Uangnya kita tabung.”
          “Oalah, Bapak. Mau dijual ke mana? Kita tinggal paling pelosok. Takkan ada yang tahu kita tinggal di sini.”
          Lama juga berpikir dan mencerna perkataan istriku. Apa yang dikatakannya benar. Bagaimana pun juga ubi ini harus terjual semua. Dikonsumsi satu minggu pun, ubi tersebut pasti belum habis juga. Belum lagi ubi panen baru. Tentunya rumah kecil yang kubuat ini tak cukup menampung ubi sebanyak itu.
          Berhari-hari kumerenung, tapi belum ada solusi untuk ubi ini. Pada akhirnya terdengarlah kabar bahwa akan ada orang yang datang ke sini.
          “Moga-moga saja orang yang datang membeli ubi kita, Pak.”
          “Amin, Buk. Doakan saja.”
          Tibalah rombongan umat manusia yang berpakaian necis mendatangi tempat kami.
          “Wah! Ubinya banyak sekali, Pak. Sudah berapa lama?” tanyanya ramah.
          “Sudah seminggu, Pak.”
          “Mau diapakan ubi sebanyak ini?”
          “Kami pun tidak tahu. Kami kewalahan. Mau dijual pun tidak tahu ke mana?”
          “Kebetulan istri saya susah mencari ubi. Bagaimana kalau saya yang membeli semuanya?”
          “Benar, Pak?”
          “Iya,” angguknya.
          Jadilah aku dan istri menjual semua ubi entah berapa karungnya, yang jelas kami belum pernah mendapat uang sebanyak ini.
          “Tabung saja uangnya, Buk. Mana tahu nanti kita bisa buat rumah besar dan toko ubi. Lalu disedekahkan.”
          “Benar, Pak.”
****
          Empat tahun berlalu. Mungkin kalian tak akan percaya dengan ini. Dulu, kami tinggal di gubuk reot tengah ladang milik orang lain. Kini, kami tak perlu susah-susah lagi mencari uang. Semua yang inginkan ubi bisa datang ke tempat kami. Eits.. Bukan di bawah pohon lagi. Tapi kami memiliki tempat hidup baru. Tidak jauh dari pohon tersebut. Kami mengembalikan tempat hidup binatang loreng ke tempatnya semula, setelah empat tahun kami pinjam.
          Belakangan ini kami mendengar bahwasannya gubuk reot dan ladang tempat kami hidup dulu sudah menjadi Perseroan Terbatas. Kabarnya pemilik PT itu bukan laki-laki berbadan tegap dan kekar, dan bukan juga laki-laki kurus pada waktu itu. Ternyata mereka menggadaikan tanah tersebut.
          Pagi itu, terdengar pintu diketuk. Sepagi ini biasanya belum ada orang yang memesan ubi.
          “Karman. Boleh saya masuk?”
          “Oh, silakan! Bapak siapa?” tanyaku heran.
          “Sebelumnya saya minta maaf. Saya dulu pernah mengusir kamu dari gubuk reot itu. Sekarang sudah menjadi PT.”
          “Oh, Bapak Suparto. Tidak apa-apa, Pak. Apa kabar?”
          “Baik, Karman. Dengar-dengar, usaha ubimu sukses di sini.”
          “Begitulah, Pak. Alhamdulillah. Sekarang saya sudah bisa lebih nyaman di sini.”
          “Tujuan saya ke sini ingin meminjam uang kepadamu. Hutang saya ada di mana-mana.”
          “Baiklah, Pak! Apakah sebanyak ini cukup? Anggap saja ini ucapan terima kasih saya telah diizinkan tinggal di gubuk reot itu. Bapak tidak usah mengembalikan uang ini kepada saya.” Sambil mengeluarkan uang dalam saku dengan jumlah yang lumayan banyak.
          “Terima kasih banyak, Karman,” ujar laki-laki itu sambil berlalu dari hadapan Karman.
          Tak kusangka, orang yang kuanggap sangat kaya dan menguasai segalanya, kini meminjam uang. Bagiku tak apa, dia juga pernah menyarankanku untuk tinggal di bawah pohon, karena itulah aku bisa seperti ini.
          Seiring waktu berjalan. Kini tempatku semakin ramai oleh kerlap-kerlip teknologi moderen. Semua orang tak perlu lagi mengais ke ladang orang. Kupekerjakan mereka di perusahaanku yang dulunya toko kecil.
          Datanglah ke tempatku sekarang. Di sini kalian akan menemukan terowongan panjang yang dulunya kelam. Tak ada kerlap-kerlip teknologi moderen. Sekarang tempatku sudah dihiasi warna-warni cahaya.
          Dulu, kalian selalu melihatku mengais di ladang orang dan tinggal di gubuk reot. Kini, kalian bisa melihatku berjalan memantau keadaan sekeliling. Berpakaian necis layaknya seperti pejabat kalangan atas.

          Tak ada yang mesti diperdebatkan lagi. Toh, kalau pun itu semua tak jadi masalah. Melihat mereka seperti itu pun sudah cukup bagiku. Biar bagaimana pun, aku pernah di posisi mereka. Aku pernah berada di dalam terowongan panjang itu.

Terbit di Koran Pasaman News, Agustus 2015
February 03, 2018

Kaum Marginal (Cerpen di Koran Rakyat Sumbar)




 
“KAUM MARGINAL!”
Oleh: Rahmi Intan

Seperti biasanya, siang itu, Endo berjalan di trotoar. Ketika lampu merah menyala, kesempatan Endo untuk mengamen. Dia memetik tali gitarnya yang mulai usang tetapi bunyinya masih bagus.
“Kak, aku berangkat dulu. Mudah-mudahan hari ini kita dapat uang banyak, supaya kakak bisa berobat,” ucap Ando.
“Iya dek, hati-hati. Kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk kita,” jawab Elin.
“Kakak di rumah saja. Jangan ke mana-mana! Endo takut nanti kakak kenapa-kenapa.”
“Kakak tidak apa-apa. Hati-hati di jalan!”
Baik kak. Assamu’alaikum,” ujar Endo sambil berjalan keluar dari gubuk kecil yang hanya terbuat dari karton-karton yang dibentuk seperti rumah.
“Walaikumsalam.”
            Keringat bercucuran mengalir di dahi Endo, tapi dia hanya mendapat sedikit uang. Hanya bisa untuk makan sehari saja. Endo terdiam duduk di bawah pohon di tepi jalan raya. Endo sedih karena tidak bisa memberikan uang banyak untuk biaya berobat kakaknya. Endo pulang hanya dengan membawa dua bungkus nasi, dan membawa sedikit obat.
Malam itu, kakaknya tampak duduk di depan gubuk kecil menunggu Endo. Dia tidak peduli meski harus kedinginan di depan gubuk, tapi semangat menunggu Endo tidak pernah pudar.
“Kakak sedang apa di sini?”
“Tidak dek, kakak hanya duduk saja menunggu kamu pulang.”
“Ayo.. Kita masuk, Kak! Aku membawa nasi dan obat untuk kakak,” ucap Endo mengajak Elin masuk ke gubuk kecil tersebut.
“Baiklah.”
Malam itu, mereka makan bersama sambil bercanda tawa.
“Makanannya enak, Ndo. Kakak suka, kamu membeli di mana?”
“Di warung depan, Kak. Alhamdulillah, kalau kakak suka.”
“Ya jelas kakak sukalah, Ndo. Kakak tahu, kamu susah payah mencari uang untuk kebutuhan kita,” ujar Elin sambil mengelus punggung Endo.
”Terima kasih, Kak. Oh iya, Bapak dan Ibu kita di mana, Kak? Dari kecil aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Mereka sudah meninggal atau belum?”
“Kakak juga tidak tahu, Ndo. Kata orang-orang di sini, Bapak dan Ibu sudah meninggal ketika kita masih anak-anak,” ucap Elin bercerita.
“Sedih juga hidup kita, Kak,” jawab Endo.
“Sabar, Ndo! Allah pasti memberikan kemudahan untuk kita, asal kita mau berusaha dan tidak mengeluh.”
“Kakak tenang saja, aku akan selalu berusaha untuk hidup kita. In syaa Allah, suatu saat aku akan membawa kakak ke tempat yang lebih nyaman dari tempat ini.”
“Kita tinggal di sini saja sudah cukup bagi kakak, Dek.”
“Tapi Endo akan tetap berjuang,” ucap Endo tersenyum.
****
            Keesokannya, pagi hari, Endo bangun dan melihat kakaknya tertidur pulas, tetapi Endo penasaran, kenapa kakaknya terlambat bangun. Berkali-kali Endo membangunkan. Alangkah terkejut ketika Endo memeriksa detak jantung dan urat nadi Elin, ternyata tidak berfungsi lagi. Badan Endo lunglai, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang.
“Kak, bangun! Kenapa kakak pergi secepat ini? Aku tinggal dengan siapa, Kak? Cuma kakak yang aku punya,” ujar Endo menangis.
“Kamu sabar, Ndo. Cobalah ikhlaskan kepergian kak Elin! Mungkin dia lebih tenang di alam sana. Jangan sedih!” ucap teman Endo mengamen, sambil mengelus punggung Endo pagi itu di gubuk.
Endo hanya terdiam. Tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia merasa terpukul dengan kehilangan kakak satu-satunya yang dia punya.
Setelah jazad kakaknya di makamkan, Endo duduk berdiam diri di bawah pohon yang rindang. Dia memikirkan tentang hidupnya yang susah. Kehilangan orang-orang yang disayanginya untuk selamanya. Dia tak pernah mengenyam pendidikan dari kecil. Dia hanya bisa memetik gitar yang mulai usang dimakan waktu, mengamen di lampu merah, dan menahan caci maki dari orang lain.
“Ternyata hidup ini pedih. Aku ingin sekolah! Aku ingin sekolah! Aku ingin sekolah! Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Tidak seperti sekarang,” ucap Endo di dalam hati memekik.
Tiba-tiba seseorang mengusir Endo dari tempat duduknya.
“Pergi kamu dari sini, Gembel! Dasar tak berguna, pengotor jalan,” ucap seorang laki-laki berbadan kekar.
“Iya. Aku akan pergi. Maaf!”
“Bagus!” orang itu berlalu dengan angkuhnya.
“Jadi begini kalau orang yang tak berpendidikan, orang jalanan yang hanya berguna untuk dicaci maki,” ucap Endo di dalam hati sambil berjalan menuju gubuk kecilnya.
Setibanya di gubuk kecil tersebut, Endo berteriak sejadi-jadinya. Apa pun yang ada di dalam hatinya diluahkan.
“Aku ingin menjadi seorang yang berpendidikan supaya bisa dihargai orang lain, aku memang anak jalanan, tapi aku punya hati. Aku bukan untuk dicaci maki.”
Dari kejauhan terdengar suara mengejutkan Endo. Ternyata suara tersebut adalah suara teman Endo mengamen.
“Endo! Kamu sedang apa di sini?”
“Aku hanya memikirkan hidup yang serba kekurangan ini. Aku ingin sekolah, aku ingin menjadi seorang yang berpendidikan supaya dihargai orang banyak,” ujar Endo.
“Ingat! Kita hanya kaum anak jalanan, kita hanya kaum marginal. Untuk makan sehari-hari saja kita susah mencari uang, apalagi untuk sekolah, Ndo. Kita harus terima kenyataan hidup ini, kita syukuri,” ujar temannya.
“Iya.. Maaf! Angan-anganku terlalu tinggi. Kapan pemimpin kita bisa menengok kita, menengok keadaan kita?”
“Entahlah, Ndo. Kita tunggu saja. Mudah-mudahan ada bantuan untuk kita!”
“Amin. Kamu tidak mengamen, Ray?”
“Nanti, Ndo. Aku baru pulang mengamen. Kamu sendiri bagaimana?”
“Mungkin hari ini aku tidak mengamen. Aku ingin di sini saja,” ujar Endo.
“Kamu di sini menghayal seperti tadi? Lupakanlah, Ndo,” kata temannya.
“Tidak! Aku di sini hanya duduk saja,” ucap Endo.
“Aku harap kamu tidak sedih lagi, Ndo.”
“Iya.”
“Baiklah! Aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
Walaikumsalam.”
Begitulah angan-angan mereka untuk sekolah. Menunggu kedatangan orang untuk bisa membantu. Namun sampai saat ini, belum ada yang membantu mereka. Hanya kesabaran yang dimiliki Endo dan Ray, serta pengamen lain.
            Tidak hanya Endo, Ray dan temannya yang menunggu kedatangan mereka ke sini, tapi juga semuanya. Semua yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal seperti yang diinginkan banyak orang. Pendidikan sangat diperlukan oleh semua manusia. Pendidikan tidak pandang martabat ataupun segalanya. Pendidikan berlaku untuk umum.
            Kaum jalanan juga manusia. Manusia yang juga butuh kehidupan yang layak seperti halnya orang lain yang berkehidupan cukup, dan juga butuh pendidikan yang tinggi demi kemajuan bangsa dan negara ke depannya.

Sabtu, 08 November 2016 di Koran Rakyat Sumbar.